QURBAN

Oktober 14, 2010 pukul 3:32 pm | Ditulis dalam Makalah | Tinggalkan komentar

QURBAN

Dr. H. Zainuddin MZ, Lc. MA.

 

Secara etimologi, qurban berasal dari kata qaruba yang berarti kedekatan. Secara terminologi adalah upaya pendekatan diri seorang hamba kepada Tuhannya dengan media penyembelihan ternak. Secara syar’iyah binatang ternak yang dipaparkan hadits berupa domba, sapi dan unta. Sehingga hari itu dinamakan hari nakhr (hari penyembelihan hewan), atau lebih populer dinamakan hari raya Adha (hari raya penyembelihan). Definisi seperti ini dipertajam dengan pernyataan Nabi yang mengatakan: Dinamakan hari raya Fitri, karena setiap umat futur (makan), dan dinamakan Adha, karena umat diharapkan menyembelih binatang qurban. Dengan demikian tidaklah dinamakan qurban apabila tidak ditandai dengan penyembelihan ternak dan pada kedua hari ini umat dilarang untuk berpuasa.

Munculnya reinterpretasi qurban dengan memalingkan substansi (penyembelihan ternak qurban) tentunya tidak sinergi dengan pendefinisian qurban itu sendiri. Adapun secara teknis, dimana daging qurban dikemas sedemikian rupa sehingga muncul inisiatif rekayasa untuk pengalengan agar lebih berdaya guna dan lebih lama pemanfaatannya, tentu tidak berseberangan dengan isyarat hadits bahwa penyembelihan yang dimaksud bukan murni untuk dikonsumsi saat itu, namun ada peluang untuk juga dijadikan simpanan.

Hal yang rancu, karena pengertian qurban di berbagai referensi fikih sering tidak dibedakan. Padahal “penyembelihan ternak” dalam perspektif hadits setidaknya ada empat macam. Pertama, penyembelihan ternak terkait dengan sukses pelaksanakan ibadah haji yang secara spesifik disebut “al-hadyu”. Kedua, penyembelihan ternak terkait dengan sanksi pelanggaran manasik haji yang secara spesifik disebut “al-dam”. Ketiga, penyembelihan ternak terkait dengan tasyakkuran kelahiran anak secara spesifik disebut “aqiqah”. Keempat, penyembelihan ternak terkait dengan merayakan hari raya Adha yang spesifik disebut “udhiyah”. Pada keempat jenis penyembelihan tersebut mempunyai prosesi dan persyaratan yang berbeda. Berangkat dari sinilah semestinya setiap hadits diletakkan dan dipergunakan secara proporsional. Kapan sebuah hadits yang terkait “penyembelihan ternak” digeneralisaskan, dan kapan sebuah hadits dipergunakan secara spesifik.

Sebagai contoh, tempat penyembelihan al-hadyu dan al-dam telah ditemukan tuntunan khusus. Yakni ketika jamaah haji masih berada di manhar (tempat penyembelihan qurban). Maka tidak mungkin keduanya (al-hadyu dan al-dam) disembelih di tanah air Indonesia hanya karena pemikiran mungkin lebih manfaat atau lebih efisien dan sebagainya. Hal itu berbeda dengan udhiyah yang boleh disembelih dimana pun keberadaan kita.

Pada kasus al-hadyu dibebankan pada setiap individu, maka tujuh person orang yang berhaji, setiap individu terbeban penyembelihan seekor domba, dan mereka boleh berkongsi untuk hanya menyembelih seekor unta atau sapi. Hal ini berbeda dengan udhiyah, yang dibebankan kepada keluarga, bukan individu. Apabila konsep “keluarga” dimaknai “keluarga besar YDSF”, maka apakah tidak diperbolehkan setiap anggota “urunan” untuk rame-rame berhari raya bersama umat?

Untuk aspek pendistribusiannya pun jauh berbeda. Kalau al-hadyu dipertuntukkan al-qani’ wa al-mu’tar (orang miskin yang meminta dan tidak meminta-minta). Namun tidak sedemikian dalam pendistribusian udhiyah. Walau pun orang konglomerat masih, ia juga layak untuk ikut meraskan kebersamaan dengan segenap umat untuk menikmati udhiyah.

Apabila kita jeli dapat membedakan berbagai nama penyembelihan ternak di atas, maka kita dapat memahami hadits yang menerangkan tidak boleh menjual kulit, mencukur bulu dan sebagainya. Apakah hadits ini dipergunakan dalam konteks al-hadyu atau dalam konteks udhiyah? Dari sya’nul wurud seorang alim dapat memahim konteks hadits larangan di atas pada al-hadyu, bukan udhiyah. Hadits tersebut dinarasikan Ali ibn Abu Thalib sebagai amirul haji dari wilayah Yaman. Kepada Ali Rasulullah saw. memerintahkan untuk menyembelih hadyu umatnya. Pesan Nabi bukan hanya tidak boleh menjual kulitnya, dan tidak mencukur bulunya, namun juga diperintahkan untuk menyedekahkan pelananya, pakaian yang dikenakan pada binatang al-hadyu dan semua yang melekat pada binatang tersebut.

Penulis yakin, artikel ini dapat dijadikan langkah awal untuk mendiskusikan lebih detail hal-hal yang terkait dengan “penyembelihan qurban”. Misalnya, Sembilan kambing udhiyah dijual untuk dirupakan seekor sapi. Udhiyah disembelih bersama, dimasak bersama dan sisanya dibontot bersama. Kulit udhiyah dijual untuk dibelikan kambing lagi. Urunan untuk membeli hewan qurban. Dan sebagainya. Semoga dapat didiskusikan lebih lanjut.

 

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Get a free blog at WordPress.com | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: