Hadis: 0033 Islam Berawal Dari Keasingan

Mei 6, 2010 pukul 10:09 am | Ditulis dalam SMS | Tinggalkan komentar

Hadis: 0033 Islam Berawal Dari Keasingan

Turats Nabawi Center mempersembahkan SMS Dakwah Gratis

Terima kasih atas kunjungan Anda, setiap Jum’at kami hadir dengan kajian hadis terbaru, insya Allah.

Pertama, teks hadis: Badaa al-Islam ghariban fa saya’udu ghariban kama badaa fa tuba lilghuraba’.

Kedua, terjemahan: Islam berawal dari keasingan dan kelak akan kembali kepada keasingan seperti semula, maka berbahagialah mereka yang terasingkan.

Ketiga, status hadis: Hadis shahih.

Keempat, takhrij hadis: Hadits di atas diriwayatkan (1) Abu Hurairah, (2) Salman, (3) Anas, (4) Ibn Mas’ud, (5) Ibn Abbas, (6) Jabir, (7) Syuraih ibn Ubaidillah al-Hadrami, (8) Abu Darda’, (9) Abu Umamah dan (10) Watsilah. Hadits periwayatan Abu Hurairah dikeluarkan oleh Muslim, Ibn Majah, Abu Ya’la. Hadits periwayatan Salman dikeluarkan Thabrani. Hadits periwayatan Anas dikeluarkan Ibn Majah, Bushiri, Thabrani dalam al-Ausath. Hadits periwayatan Ibn Mas’ud dikeluarkan Ahmad, Turmudzi, Ibn Majah, Ibn Abi Syaibah, Darimi, Bazzar, Syasyi, Abu Ya’la. Hadits periwayatan Ibn Abbas dikeluarkan Thabrani dalam al-Kabir, Thabrani dalam al-Ausath. Hadits periwayatan Jabir dikeluarkan Thabrani dalam al-Ausath. Periwayatan Syuraih ibn Ubaidillah al-Hadrami dikeluarkan Rafii. Adapun hadits periwayatan Abu Darda’, Abu Umamah dan Watsilah dikeluarkan Khatib al-Baqdadi. Dengan demikian ditemukan sepuluh sahabat yang terlibat dalam periwayatan hadits ini, yang lazim diistilahkan hadits masyhur. Memang tidak semua hadits masyhur itu shahih, namun karena hadits itu sudah dikeluarkan Muslim dan lainnya maka status hadits tersebut dikategorikan hadits shahih.

Kelima, penjelasan hadits: Anda dapat membayangkan hidup di masa jahiliyah, setiap manusia kehidupannya mereka exsis sekiranya dapat mengorbankan orang lain. Barangkali istilah yang tepat digunakan adalah “kalau tidak pandai memakan orang bakal dimakan orang”. Dalam hal jual beli misalnya. Seseorang memiliki combe yang sangat banyak. Agar barang dagangannya laris, combe-combe tersebut diperlakukan seperti rame-rame menebas dagangannya, tentu dengan harga yang sangat tinggi sehingga ia dapat menarik perhatian publik dan meraup keuntungan yang luar biasa dan tega mengorbankan para konsumennya. Takarannya pun dikurangi sedemikian rupa, yang semestinya tidak sampai satu mud (1,25 kg) dikasih lebel satu mud dan takaran yang tidak sampai satu sha’ (2,5 kg) dikasih lebel satu sha’. Sehingga dari sisi takarannya sudah meraup keuntungan besar dan dari segi harganya demikian pula halnya. Maka kehadiran Rasulullah yang menganjurkan berbuat jujur dalam traksasi, tidak mengurangi takaran dan mencari keuntungan yang sewajarnya merupakan sikap yang asing di mata masyarakkat jahiliyah. Kondisi seperti ini disinyalir oleh Rasulullah kelak akan terulang kembali. Benarkah? Zaman segini kalau tidak korupsi tentu sangat aneh dan asing. Pengelolah wartel misalnya, harga pulsanya mungkin tidak dapat dimanipulasi (baca dikorup), namun durasinya na’udzu billah, cepat banget. Kontraktor yang menang tender, takarannya semestinya satu tiga empat dikorup dengan satu lima sepuluh, sehingga jembatan belum diresmikan sudah ambruk hanya dilewati motornya komeng. Pelanggan PLN pun mengkorup meteran, kalau bisa diakal jalannya tidak normal, atau diputar balik biar pihak PLN yang ganti rugi. Warung kejujuran di instansi pendidikan pun akrab dengan model “jimo” membayar siji (satu) yang dimakan “limo” (lima jajanan). Disaat hidup tanpa korupksi menjadi gaya hidup, masihkah ada manusia yang jujur. Dialah yang dianggap Rasulullah sebagai “insan yang asing” seperti tempo dulu. Semoga pola hidup kita tergolong hal yang asing yang dimaksudkan oleh Rasulullah. Bilamana demikian, maka berbahagialah kita, seperti yang didoakan dan dijanjikan oleh Rasulullah saw.

Keenam, referensi: Lebih lanjut silakan merujuk referensi berikut ini: Maqasid: 143. Tamyiz: 51. Kasyf: 1/282. Muslim: 145. Ibn Majah: 3986, 3987, 3988. Abu Ya’la: 6190. Thabrani: 6147. Bushiri: 4/178. Thabrani dalam al-Ausath: 1925. Ahmad: 3784. Turmudzi: 2629. Ibn Abi Syaibah: 34366. Darimi: 2755. Bazzar: 2069. Syasyi: 729. Abu Ya’la: 4975. Thabrani dalam al-Kabir: 11074. Thabrani dalam al-Ausath: 4915, 5806. Rafii: 3/490. Khatib al-Baqdadi: 12/481.

Dr. H. Zainuddin MZ, Lc. MA. / Blog: konsorsiumhadis.wordpress.com

Catatan: Mohon artikel ini diketuk tularkan kepada teman-teman.

(Pertama) teks hadits, (Kedua) terjemahan hadits, (Ketiga) status hadits dan (Kelima) penjelasan hadits adalah diperuntukkan masyarakat awam. Sementara (Keempat) takhrij hadits dan (Keenam) referensi adalah diperuntukkan para cendikiawan dan para pemerhati hadits.

Terima kasih atas kunjungan Anda, setiap Jum’at kami akan hadir dengan kajian hadis terbaru, insya Allah

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: