Hadis: 0034 Rukun Islam

Mei 13, 2010 pukul 4:18 am | Ditulis dalam SMS | Tinggalkan komentar

Hadis: 0034 Rukun Islam

Turats Nabawi Center mempersembahkan SMS Dakwah Gratis
Terima kasih atas kunjungan Anda, setiap Jum’at kami hadir dengan kajian hadis terbaru, insya Allah.

Pertama, teks hadis: Buniyal Islamu ala khamsi hishal, syahadati an la ilaha illallah wa anna Muhammadan rasulullah, wa iqamis shalah. Wa itai zakah wa hajjil bait wa shaumi ramadhan
Kedua, terjemahan: Islam ditegakkan atas lima pilar. Yaitu, kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan kesaksian bahwa Muhammad adalah rasul Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, ibadah haji dan puasa Ramadhan.
Ketiga, status hadis: Hadis shahih.
Keempat, takhrij hadis: Hadits di atas diriwayatkan (1) Jarir, (2) Ibn Umar dan (3) Ibn Abbas. Hadits riwayat Jarir dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, Thabrani, Thabrani dalam al-Shaghir. Hadits riwayat Ibn Umar dikeluarkan oleh Ahmad, Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasai, Abu Ya’la, Ibn Khuzaimah, Thabrani, Baihaqi. Hadits Ibn Abbas dikeluarkan Thabrani dalam al-Kabir. Periwayatan Ibn Abbas ternyata lemah karena di dalam sanadnya (mata rantai perawinya) ada yang bernama Amr ibn Malik yang dinilai lemah. Kelemahan perawi ini tercermin banyak sisipan dan pengurangan dalam periwayatannya, seperti menculnya sisipan “Barangsiapa yang meninggalkan salah satu pilar tersebut maka dia adalah orang kafir, yang darahnya halal ditumpahkan”. Sisipan ini dinilai munkar. Selain ada perawi Amr ibn Malik juga ada perawi lain yang bernama Mu’ammal ibn Ismail yang juga dinilai lemah hafalannya.
Kelima, penjelasan hadits: Islam dibangun dengan “Khamsi hishal” yang biasa diterjemahakan dengan “lima pilar” atau “lima tiang” akhirnya lebih akrab dengan istilah “rukun Islam”. Tentunya secara ideal kelima pilar keislaman itu diamalkan oleh setiap muslim. Namun bukan mustahil dalam perjalanan hidup manusia, mungkin hanya mampu menjalankan tiga pilar saja, atau empat pilar saja, atau seluruh pilar dapat dijalaninya. Hal itu bergantung kepada kemampuan setiap hamba Allah. Karena pada prinsipnya Tuhan tidak akan membebani hamba-Nya di luar kemampuan. Ada yang menarik dari cara dakwah yang dilakukan seorang tokoh kelahiran Yogyakarta yang mengajarkan bahwa pilar keislaman itu tidak lebih dari tiga perkara (bukan lima perkara sebagaimana yang dituturkan oleh Rasulullah saw). Memahami fatwa seperti ini harus dengan pendekatan historisitasnya. Kenapa Pak Kyiai itu mengeluarkan pernyataan seperti itu. Dalam konteks apa ia mengatakannya, sehingga seseorang yang mendengar pernyataan itu dapat memahaminya secara proporsional. Waktu itu Pak Kyiai sedang mengumpulkan orang-orang gelandangan. Dihadapan mereka diajarkan pilar-pilar keislaman, bukan ada lima melainkan hanya tiga. Yang pertama, adalah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan kesaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Untuk pilar pertama ini tentu tidak membutuhkan dana, dan itu sangat mudah diamalkan oleh mereka. Pilar kedua adalah shalat, yang didefinisikan rangkain wirid dan dzikir yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan bacaan salam. Pilar yang kedua inipun tidak mengadalkan biaya. Adapun pilar yang ketiga adalah puasa. Yang didefinisikan tidak makan, tidak minum, tidak berbuat maksiat yang dapat membatalkan puasa dari terbitnya fajar sidiq sampai tenggelamnya matahari. Untuk puliar ini bagi mereka sudah terbiasa. Karena sekian hari mereka sudah terbiasa tidak makan dan tidak minum. Dengan demikian rukun Islam orang gelandangan hanya tiga, bukan lima. Ituah sikap bijak dalam berdakwa yang disesuaikan dengan kondisi siapa yang dibicarai. Anda dapat membayangkan, apakah mungkin mereka dibebani pilar zakat, padahal justru mereka yang pantas diberi zakat. Apalagi diberi beban pilar menunaikan ibadah haji? Dari mana mereka dapat melaksanakan pilar keislaman seperti ini. Jangan-jangan kita sendiri masih belum mampu menjalaninya. Apakah berarti kurang nilai keislaman kita? Pola dakwah seperti ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah ketika ditanya, pilar Islam apa yang paling utama. Ternyata jawaban Nabi hanya satu, yakni birrul walidaini (berbuat baik kepada kedua orang tuan). Hal ini tentu disampaikan oleh Rasulullah kepada kita yang ritual keagamaannya sudah luar biasa, namun perilakunya selalu menyakikan hati kedua orang tua. Padahal ridha Allah bergantung kepada ridha keduanya. Sahabat lain diajari bahwa pilar yang paling utama hanya satu, yakni shalat pada waktunya. Shahabat yang lain diajari pilar Islam hanya satu, yakni jagalah ibumu. Sekiranya Rasulullah saw. hidup bersama kita yang ada di Indonesia dewasa ini dan beliau ditanya pilar keislaman, mungkin Rasulullah saw. akan menjawab: Hanya satu, yakni “jangan korupsi”.
Keenam, referensi: Lebih lanjut silakan merujuk referensi berikut ini: Ahmad: 6015. Abu Ya’la: 5788, 7502. Thabrani: 2363, 13203. Thabrani dalam al-Shaghir: 782. Bukhari: 8. Muslim: 16. Turmudzi: 2609. Nasai: 2/268. Ibn Khuzaimah: 309. Baihaqi: 7013. Thabrani dalam al-Kabir: 3/177..

Dr. H. Zainuddin MZ, Lc. MA. / Blog: konsorsiumhadis.wordpress.com
Catatan: Mohon artikel ini diketuk tularkan kepada teman-teman.  (Pertama) teks hadits, (Kedua) terjemahan hadits, (Ketiga) status hadits dan (Kelima) penjelasan hadits adalah diperuntukkan masyarakat awam. Sementara (Keempat) takhrij hadits dan (Keenam) referensi adalah diperuntukkan para cendikiawan dan para pemerhati hadits.

Terima kasih atas kunjungan Anda, setiap Jum’at kami akan hadir dengan kajian hadis terbaru, insya Allah

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: