Hadis: 0040 Inti Haji Adalah Wukuf di Arafah

Juli 22, 2010 pukul 1:47 pm | Ditulis dalam SMS | Tinggalkan komentar

Hadis: 0040 Inti Haji Adalah Wuquf di Arafah

Turats Nabawi Center mempersembahkan SMS Dakwah Gratis
Terima kasih atas kunjungan Anda, setiap Jum’at kami hadir dengan kajian hadis terbaru, insya Allah.

Pertama, teks hadis: Al-Hajju Arafat, man ja-a qabla shalat subhi min lailatil jam’i faqad tamma hajjuhu.
Kedua, terjemahan: Inti ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Barangsiapa yang mendatanginya (untuk wuquf) sebelum datangnya waktu Subuh pada malam Muzdalifah maka hajinya telah sempurna.
Ketiga, status hadis: Hadis shahih.
Keempat, takhrij hadis: Hadits di atas diriwayatkan lima sahabat Nabi saw. Meraka adalah Abdurrahman ibn Ya’mar al-Dili, Ibn Abbas, Ibn Umar, Jabir ibn Abdullah dan Urwah ibn Mudhris. Hadits periwayatan Abdurrahman ibn Ya’mar al-Dili dikeluarkan Abu Daud, Nasai, Turmudzi, Darimi, Ibn Majah, Thahawi, Ibn Jarud, Ibn Hibban, Daraqutni, Hakim, Baihaqi, dan Humaidi. Adapun hadits yang diriwayatkan Ibn Abbas dikeluarkan oleh Thabrani dalam al-Ausath. Adapun hadits yang diriwayatkan Ibn Umar juga dikeluarkan oleh Daraqutni. Adapun periwayatan Jabir ibn Abdullah dikeluarkan Baihaqi. Adapun periwayatan Urwah ibn Mudhris dikeluarkan Abu Daud, Nasai, Turmudzi, Darimi, Ibn Majah, Thahawi, Ibn Jarud, Ibn Hibban, Daraqutni, Hakim, Baihaqi, Thayalisi, Ahmad, dan Humaidi.
Kelima, penjelasan hadits: Hadis di atas mempunyai asbab wurud (latar belakang historis lahirnya sebuah hadis), sebagaimana yang dapat dicermati dari periwayatan Abdurrahman ibn Ya’mar dalam teks yang sempurna. Dalam hadits tersebut dipaparkan bahwa Abdurrahman ibn Ya’mar berkata: Saya menghadap kepada Rasulullah saw. yang saat itu beliau sedang wukuf di Arafah. Lalu beliau didatangi sekelompok umat penduduk Nejed, di antara mereka ada yang diperintah untuk menyeru: Wahai Rasulullah, bagaimana tata krama ibadah haji? Maka Rasulullah saw. menyuruh seseorang yang menyatakan “Inti ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Barangsiapa yang mendatanginya (untuk wuquf) sebelum datangnya waktu Subuh pada malam Muzdalifah maka hajinya telah sempurna”. Dengan adanya asbabul wurud di atas menunjukkan alangkah gampangnya pelaksanaan ibadah haji, walaupun sebagain orang menganggapnya ibadah yang sangat melelahkan. Bagi mereka yang melaksanakan “tarwiyah” (tanggal delapan Dzul Hijjah menuju ke Mina untuk mabit atau bermalam disitu mulai dari shalat Dhuhur sampai shalat Subuh) tentu akan mendapatkan kendala untuk dapat melaksanakan wukuf di Arafah mulai setelah tergelincirnya matahari. Hal ini dikarenakan perjalanan tanggal sembilan Dzul Hijjah dari Mina menuju Arafah sangat padat, bahkan tidak sedikit di antara jemaah haji yang tidak mendapatkan kendaraan menuju Arafah. Mereka harus berjalan kaki. Kalaulah ada yang mendapatkan kendaraan, itupun tidak semudah untuk dapat ke lokasi wuquf yang ditentukan. Akhirnya banyak yang baru sampai di Arafah menjelang Maghrib, bahkan menjelang Isya’. Maka tidak sedikit di antara mereka yang menilai hajinya tidak sah?! Karena dalam pandangan mereka waktu wukuf itu hanya mulai setelah Dhuhur sampai Maghrib. Maka hadits di atas tentunya dapat dijadikan argumentasi kekeliruan pendapat mereka, karena menurut hadits yang shahih, walaupun kita terlambat memasuki Arafah, dan baru sampai ke tempat tersebut sebelum terbitnya fajar (waktu Subuh) oleh Rasulullah saw. dinyatakan sah hajinya. Beginilah nikmatkan mengkaji hadits, sehingga kita temukan sebegitu sederhananya tuntunan Rasulullah saw.
Keenam, referensi: Lebih lanjut silakan merujuk referensi berikut ini: Maqasid: 186. Tamyiz: 66. Kasyf: 1/352. Abu Daud: 1949. Nasai: 2/45, 46, 48. Turmudzi: 1/168. Darimi: 2/59. Ibn Majah: 3015. Thahawi: 1/:408. Ibn Jarud: 468. Ibn Hibban: 1009. Daraqutni: 264. Hakim: 1/464, 2/278. Baihaqi: 5/116, 173. Humaidi: 899.

Dr. H. Zainuddin MZ, Lc. MA. / Blog: konsorsiumhadis.wordpress.com

Catatan: Mohon artikel ini diketuk tularkan kepada teman-teman.
(Pertama) teks hadits, (Kedua) terjemahan hadits, (Ketiga) status hadits dan (Kelima) penjelasan hadits adalah diperuntukkan masyarakat awam. Sementara (Keempat) takhrij hadits dan (Keenam) referensi adalah diperuntukkan para cendikiawan dan para pemerhati hadits.

Terima kasih atas kunjungan Anda, setiap Jum’at kami akan hadir dengan kajian hadis terbaru, insya Allah

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: