Hadis:0041 Malu Bagian Dari Iman

Juli 28, 2010 pukul 10:07 pm | Ditulis dalam SMS | Tinggalkan komentar

Hadis: 0041: Malu Bagian Dari Iman

Turats Nabawi Center mempersembahkan SMS Dakwah Gratis
Terima kasih atas kunjungan Anda, setiap Jum’at kami hadir dengan kajian hadis terbaru, insya Allah.

Pertama, teks hadis: Al-Hayau min al-iman.
Kedua, terjemahan: Rasa malu bagian dari iman.
Ketiga, status hadis: Hadis shahih.
Keempat, takhrij hadis: Hadits di atas diriwayatkan oleh tiga sahabat. Pertama, Ibn Umar. Kedua, Abdullah ibn Salam. Ketiga, Abu Bakrah. Hadits yang diriwayatkan Ibn Umar dikeluarkan oleh Muslim, Turmudzi dan hadits ini dinilai “hasan shahih”, Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Abu Ya’la, Ibn Asakir. Adapun hadits yang diriwayatkan Abdullah ibn Salam dikeluarkan oleh Abu Ya’la dan Ibn Asakir. Hadits ini dinilai oleh imam al-Haitsami dalam sanadnya (mata rantai perawinya) ada yang bernama Hisyam ibn Ziyad yang dilemahkan oleh sekelompok ahli hadits dan dikatakan haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah. Adapun hadits yang diriwayatkan Abu Bakrah dikeluarkan oleh Ibn Asakir dan al-Qadhai. Dengan paparan seperti ini sebenarnya hadits yang diriwayatkan Ibn Umar sudah cukup shahih, karena hadits tersebut telah dikeluarkan imam Muslim dan dikomentari oleh Turmudzi “hasan shahih”. Sehingga status hadits itu menjadi hadits shahih.
Kelima, penjelasan hadits: Redaksi hadits di atas cukup jelas, dan hadits ini memiliki asbab wurud (latar belakang historis lahirnya sebuah hadis). Seperti yang dicantumkan dalam kitab Shahih al-Bukhari (1/17) yang dinarasikan Salim ibn Abdullah dari bapaknya (Abdullah) bahwa Rasulullah saw. berjalan melintasi seorang anshar yang sedang memberi nasihat kepada saudaranya perihal rasa malu. Maka Rasulullah saw. bersabda: Biarkan dia begitu. Sesungguhnya rasa malu itu bagian daripada iman. Disisi lain Rasulullah saw. memberikan penjelasan dalam sabdanya “Rasa malu tidak akan mendatangkan kepada seseorang kecuali kebaikan”. Hr. Bukhari: 5766, Muslim: 37, Ahmad: 19843. Dengan qarinah (pertimbangan) hadits ini dapat difahami bahwa “rasa malu” tersebut adalah dalam ranah malu berbuat apa-apa yang dilarang oleh agama. Seperti malu berbuat maksiat, malu memperguncingkan aib orang lain dan lainnya. Adapun malu bertanya, malu mengkonfirmasikan pendapat seseorang, malu memberikan kesaksian, malu mengutarakan kebenaran dan sebagainya tentunya bukan pada tempatnya, bahkan sebuah kekeliruan yang fatal. Betapa banyaknya kasus rasa malu seseorang yang bukan pada tempatnya. Terjadi pada zaman Rasulullah, ketika ada seseorang yang terkena luka parah pada kepalanya, kemudian yang bersangkutan terkena mimpi basah. Semestinya yang bersangkutan tidak boleh malu untuk bertanya apa yang harus dilakukannya ketika ia hendak melaksanakan shalat. Pada akhirnya menghukumi diri untuk tetap melaksanakan mandi jinabat, padahal perlakukan itu dapat membahayakan bagi dirinya. Ketika ia dipaksa untuk mandi junub, akhirnya ia meninggal dunia. Ketika berita kematian itu sampai kepada Rasulullah, bukan main kagetnya Nabi. Beliau bersabda: Itu adalah sebuah pembunuhan, kenapa malu bertanya sekiranya ia belum mengerti. Itulah sebabnya di dalam Al-Qur’an orang yang malu bertanya disindir habis-habisan oleh Allah ta’ala dalam firmanya “Maka tanyakan kepada ahl dzikir (orang yang mengerti) jika anda belum tahu”. Qs. Al-Nahl: 43. Sehingga tepat kata pepatah “Malu bertanya sesat dijalan”. Maka hendaknya setiap orang memahami “rasa malu” apa yang layak dilakukan dan “rasa malu” apa yang harus dihindari. Dengan demikian semua hadits dapat difahami dan diamalkan secara proporsional.
Keenam, referensi: Lebih lanjut silakan merujuk referensi berikut ini: Maqasid: 195. Durar: 196, Tamyiz: 70. Kasyf: 1/359. Muslim: 36. Turmudzi: 2615. Ibn Abi Syaibah: 2534. Ahmad: 4554. Abu Ya’la: 5424. Ibn Asakir: 56/97.

Dr. H. Zainuddin MZ, Lc. MA.
Blog: konsorsiumhadis.wordpress.com
Catatan: Mohon artikel ini diketuk tularkan kepada teman-teman.
(Pertama) teks hadits, (Kedua) terjemahan hadits, (Ketiga) status hadits dan (Kelima) penjelasan hadits adalah diperuntukkan masyarakat awam. Sedangkan (Keempat) takhrij hadits dan (Keenam) referensi adalah diperuntukkan para cendikiawan dan para pemerhati hadits.

Terima kasih atas kunjungan Anda, setiap Jum’at kami akan hadir dengan kajian hadis terbaru, insya Allah

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: