Hadis 0047: Dunia Adalah Ladang Akhirat

September 9, 2010 pukul 12:55 pm | Ditulis dalam SMS | Tinggalkan komentar

Hadis: 0047: Dunia Adalah Ladang Akhirat

Turats Nabawi Center mempersembahkan SMS Dakwah Gratis

Terima kasih atas kunjungan Anda, setiap Jum’at kami hadir dengan kajian hadis terbaru, insya Allah.

Pertama, teks hadis: Al-dunya mazra’atul akhirah.

Kedua, terjemahan: Dunia adalah ladang akhirat.

Ketiga, status hadis: Hadis palsu.

Keempat, penjelasan hadits: Hadits ini cukup masyhur baik dikalangan ulama maupun masyarakat awam. Namun hasil penelitian sebagaimana yang dapat dilihat pada takhrij hadits, adalah hadits yang tidak ditemukan sanad (mata rantai perawinya), yang sering diistilahkan “hadits la asla lahu”. Menurut ulama, semua hadits yang dinyatakan tidak memiliki sanad dikategorikan “hadits palsu”. Betapapun hadits ini “palsu”, namun maknanya shahih. Dahulu penulis pernah memaparkan: Betapa pun hadits itu dhaif (lemah) namun maknanya shahih, akhirnya penulis mendapatkan tanggapan yang serius, bahkan dalam sebuah majelis taklim penulis secara khusus diundang untuk mempertanggung jawabkan pernyataan tersebut. Dengan senang hati penulis hadiri dan penulis jelaskan bahwa pernyataan itu bukan penulis yang pertama kali menyampaikannya. Para ulama hadits sebelumnya pun juga mempunyai pernyataan yang sama, sehingga teman-teman di majelis taklim memahaminya. Kali ini pernyataan penulis bukan “hadits dhaif” yang kadang maknanya shahih, namun “hadits palsu” tetapi maknanya shahih. Penulis yakin suatu saat akan diundang lagi dalam masjelis taklim untuk mempertanggung jawabkan pernyataan tersebut. Maka agar penulis tidak diundang lagi berikut ini penulis paparkan di antara orang alim yang menyatakan walaupun hadit itu palsu namun kadang maknanya shahih. Yaitu penyusun Kasyf al-Khafa’ (1/412) memaparkan: Hadits “Dunia adalah ladang akhirat” dinilai penyusun buku al-maqashid “lam aqif ‘alaihi” (saya tidak menemukan keberadaan hadits ini dalam referensi hadits) walaupun hadits tersebut tercantum dalam buku Ihya’ Ulumuddin. Menurut imam al-Qari: Namun makna hadits itu shahih. Ungkapan itu seirama dengan firman Allah swt: “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat. (Qs. Syura: 20). Hadits di atas ada kemiripan pula dengan hadits yang dikeluarkan oleh Hakim dalam bukunya al-Mustadrak: 7870 dari riwayat Sa’ad ibn Thariq dari bapaknya, Rasulullah saw. bersabda: Kenikmatan dunia bagi yang berbekal untuk kenikmatan akhirat. Sayangnya hadits ini dikomentari oleh imam al-Dzahabi: Hadits munkar. Sacara nalar pun semua orang dapat menerima, apa saja yang kita kerjakan berupa kebaikan di dunia ini, pasti akan kita temukan hasilnya di akhirat kelak. Demikian pula sebaliknya. Tepat apa yang difirmankan Allah “Barangsiapa berbuat baik walaupun sekecil apa pun, pasti ia akan menyaksikan di akhirat dan barangsiapa berbuat keji sekecil apa pun ia juga pasti akan menyaksikannya di akhirat kelak” Qs. Al-Zalzalah: 7.

Kelima, takhrij hadis: Hadits di atas sering penulis istilahkan “hadits ujug-ujug muncul”. Maksudnya biasanya sebuah hadits itu muncul karena diceritakan perawi dari guru ke guru berikutnya sampai kepada Rasulullah saw. Namun hadits di atas tidak halnya seperti itu, melainkan muncul dalam tulisan apakah di buku maupun di lembaran-lembaran yang tidak diketahui siapa mata rantai perawinya. Biasanya hadits-hadits jenis seperti ini muncul dalam referensi manaqib, atau referensi fikih dan sebagainya. Hadits tersebut juga tercantum dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya imam al-Ghazali yang juga tidak dicantumkan mata rantai perawinya.

Keenam, referensi: Lebih lanjut silakan merujuk referensi berikut ini: Maqasid: 294. Tamyiz: 108. Kasyf: 1/412.

Dr. H. Zainuddin MZ, Lc. MA.

Blog: konsorsiumhadis.wordpress.com

Catatan: Mohon artikel ini diketuk tularkan kepada teman-teman.

(Pertama) teks hadits, (Kedua) terjemahan hadits, (Ketiga) status hadits dan (Keempat) penjelasan hadits adalah diperuntukkan masyarakat awam. Sedangkan (Kelima) takhrij hadits dan (Keenam) referensi adalah diperuntukkan para cendikiawan dan para pemerhati hadits.

Terima kasih atas kunjungan Anda, setiap Jum’at kami akan hadir dengan kajian hadis terbaru, insya Allah

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: