Hadis: 0059: Hukum Rajam Bagi Pezina Muhsan

Desember 23, 2010 pukul 11:56 am | Ditulis dalam SMS | Tinggalkan komentar

Hadis: 0059: Hukum Rajam Bagi Pezina Muhsan

Turats Nabawi Center mempersembahkan SMS Dakwah Gratis

Terima kasih atas kunjungan Anda, setiap Jum’at kami hadir dengan kajian hadis terbaru, insya Allah.

 

1. Teks hadis: ِAl-Syaikh wa al-Syaikhah idza zanaya farjumuhuma al-battah.

2. Terjemahan: Laki-laki dan perempuan tua yang berzina hukumlah rajam keduanya secara pasti.

3. Status hadis: Hadis shahih.

4. Penjelasan hadits: Apabila kita mencari ayat tentang hukum rajam di dalam Al-Qur’an, tentu tidak akan ditemukan. Hukum zina dalam Al-Qur’an hanyalah berupa “cambukan seratus kali”. Baik bagi pihak wanita maupun pihak lelaki baik bagi orang yang sudah kawin maupun belum (sesuai dengan keumuman ayat). Sebagaimana firman Allah swt.: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (Qs. Al-Nur: 2). Termasuk hukum pengasingan selama satu tahun bagi mereka yang setelah didera seratus kali juga tidak ada di dalam Al-Qur’an. Munculnya hukum rajam (mati) dan hukum pengasingan pezina selama satu tahun adalah murni di dalam pernjelasan Rasulullah saw. Disinilah dipertaruhkan eksistensi hadits sebagai sumber hukum. Karena terlalu banyak para cendekia yang menolak hadits seperti dalam kasus-kasus di atas dengan alasan hadits-hadits tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an?!. Padahal mereka menyadari bahwa fungsi hadits sebagai bayan (penjelas) terhadap Al-Qur’an, adalah berfungsi menjustifikasi Al-Qur’an itu sendiri, atau mentaqyid yang mutlak, atau mentakhsis yang umum bahkan menyempurnakan yang kurang. Fungsi yang terakhir inilah yang sering diistilahkan oleh ulama “al-istiqlal bi hukmi syar’i”, yang oleh kebanyakan teman ditolak karena dianggap bertentangan dengan Al-Qur’an. Maka dampaknya betapa banyak hadits shahih yang tereliminir dengan pola pemikiran seperti ini. Contoh yang lain misalnya di dalam Al-Qur’an hanya ditemukan konsep “mengqashar shalat” bagi yang bepergian dan tidak ada konsep menjama’ (menggabungkan dua shalat), baik jama’ taqdim maupun jama’ ta’khir. Penjelasan itu muncul dari Rasulullah saw. Maka bagi teman yang mempunyai pola berfikir bahwa hadits itu berseberangan dengan Al-Qur’an, yang ada hanyalah konsep mengqasar saja, tidak ada konsep menjama’, padahal hadits itu benar datangnya dari Rasulullah saw. Contoh lain adalah konsep mengqashar shalat. Menurut Al-Qur’an sekiranya seseorang sedang dalam perjalanan. Apabila yang bersangkutan belum memulai perjalanan (masih di rumah) maka tidak diperkenankan melakukannya. Padahal ditemukanm hadits shahih bahwa Nabi saw. telah melaksanakan (menjam,a’ shalat) ketika beliau belum malakukan perjalanan. Semestinya pelaksanaan rukhsah ketika seseorang dalam perjalanan itu telah diterangkan di dalam Al-Qur’an dan pelaksanaan rukhsah seseaorang sebelum melakukan perjalanannya telah diterangkan di dalam hadits Nabi. Dengan demikian baik Al-Qur’an maupun hadits dapat difahami secara seimbang (sejajar).

 

5. Takhrij hadis: Hadits ini diriwayatkan oleh 4 sahabat, yaitu Umar ibn  Khattab, Zaid ibn Tsabit, Ubai ibn Ka’ab dan Ajma’ (bibi Umamah ibn Sahal). Adapun hadits yang diriwayatkan Umar ibn Khattab dikeluarkan oleh Abu Bakar ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, Ibn Majah, Muslim, Nasai dalam al-Kubra, Baihaqi, dan Bukhari. Adapun hadits yang diriwayatkan Zaid ibn Tsabit dikeluarkan oleh  Ahmad, Nasai dalam al-Kubra, Darimi, Hakim, dan Baihaqi. Adapun hadits yang diriwayatkan Ubai ibn Ka’ab dikeluarkan oleh Nasai, Ibn Hibban, Hakim, Abdurrazaq dalam al-Mushannaf, Thayalisi, Abdullah ibn Ahmad, dan Dhiya’ dalam al-Muhtarah. Adapun hadits yang diriwayatkan Ajma’ (bibi Umamah ibn Sahal) dikeluarkan oleh Nasai, Hakim, dan Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir. Betapa pun di antara sanad (mata rantai perawi) ada sebagian yang lemah namun sejumlah sahabat telah meriwayatkan yang semakna bahkan sebagian hadits tercantum dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim. Sehingga tidak disanksikan bahwa kedudukan hadits di atas adalah hadits shahih.

 

6. Referensi: Lebih lanjut silakan merujuk referensi berikut ini: Maqasid: 257. Tamyiz: 92. Durar: 266. Kasyf: 2/17. Talhis al-Habir: 4/51. Tafsir Ibn Katsir: 3/261. Abu Bakar ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf: 10/75-76. Ibn Majah: 2553. Muslim: 5/116. Nasai dalam al-Kubra: 7156. Baihaqi: 8/211. Bukhari: 6829. Ahmad: 5/183. Nasai dalam al-Kubra: 7145. Darimi: 2/179. Hakim: 4/350. Baihaqi: 8/211. Nasai: 7141. Ibn Hibban: 4411, 4412. Hakim: 2/359, 415. Abdurrazaq dalam al-Mushannaf: 5990. Thayalisi: 540. Abdullah ibn Ahmad: 5/132. Dhiya’ dalam al-Muhtarah: 3/370-371. Nasai: 7146. Hakim: 4/359. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir: 24/350.

Catatan: Mohon artikel ini diketuk tularkan kepada teman-teman.

(Pertama) teks hadits, (Kedua) terjemahan hadits, (Ketiga) status hadits dan (Keempat) penjelasan hadits adalah diperuntukkan masyarakat awam. Sedangkan (Kelima) takhrij hadits dan (Keenam) referensi adalah diperuntukkan para cendikiawan dan para pemerhati hadits.

 

Dr. H. Zainuddin MZ, Lc. MA.

Blog: konsorsiumhadis.wordpress.com

 

Terima kasih atas kunjungan Anda, setiap Jum’at kami akan hadir dengan kajian hadis terbaru, insya Allah.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: