Shalat-Bagian Ketigapuluh Dua

Februari 9, 2012 pukul 3:20 pm | Ditulis dalam SMS | Tinggalkan komentar

Shalat-Bagian Ketigapuluh Dua

TURATS NABAWI PRESS
ANDA INGIN KAJIAN RUTIN HADITS?
SILAHKAN BERGABUNG DENGAN KAMI:
konsorsiumhadis.wordpress.com

PELAKSANAKAN RAKA’AT BERIKUTNYA

Cara Pelaksanaannya
Sewaktu Nabi saw. bangkit untuk melaksanakan raka’at berikutnya, beliau mengangkat anggota badannya dengan bantuan (bersanggah dengan) kedua tangannya. Dengan cara ini secara otomatis dapat difahami bahwa tata cara pelaksanaannya adalah mengangkat kepala terlebih dahulu kemudian mengangkat kedua lututnya, kemudian barulah mengangkat kedua tangannya.
Hadis Nabi saw.:
وَ كَانَ يَعْجِنُ فِى الصَّلاَةِ: يَعْتَمِدُ عَلَى يَدَيْهِ اِذَا قَامَ
“Ketika Nabi saw. bangkit, beliau melaksanakannya sam¬bil bersanggah dengan kedua tangannya yang dikepalkan (seperti halnya orang memeras santan), boleh juga dengan tidak mengepalkan jari”. HR. Abu Ishak al-Harbi dengan sanad (mata rantai perawi) yang sah. Hadis ini juga dikeluarkan oleh imam Baihaqi dengan maknanya.
Mengeraskan Bacaan Dari Hamdalah
Ditemukan contoh dari Nabi saw bahwa beliau memulai mengeraskan bacaan surat Al-Qur’an atau bacaan Al-Fatihah dengan Alhamdulillah …
Hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.:
كَانَ رَسُوْلُ اللَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اِذَا نَهَضَ فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ اِسْتَفْتَحَ الْقِرَاءَةَ بِالْحَمْدُ للِّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَ لَمْ يَسْكُتْ
“Sewaktu Nabi saw. bangkit untuk melaksanakan raka’at yang kedua, beliau memulai mengeraskan bacaan Al-Fatihah dengan Alhamdu-lillahi rabbil ‘alamin dan tidak ada diam sejenaknya”. HR. Muslim dan Abu Awanah. Hadis inilah yang juga dipakai argumentasi bagi mereka yang mengatakan bahwa mengeraskan bacaan Al-Fatihah dalam rakaat pertama juga dengan hamdalah, bukan dengan basmalah, walaupun bacaan basmalah tetap dibaca dengan sirri (rahasia atau samar).
Dan menurut pendapat yang kuat, tidak diamnya Nabi saw. tersebut bukan berarti tidak membaca ta’awwud dan bas¬malah. Hal ini tetap dibacanya walaupun tidak dengan suara keras. Wallahu a’lam.
Raka’at Kedua Tanpa Do’a Iftitah
Dari keterangan hadis-hadis di atas juga dapat disimpulkan bahwa untuk melaksanakan raka’at berikutnya (yakni rakaat yang kedua dan seter¬usnya) tidak lagi disyariatkan membaca do’a iftitah. Maka do’a iftitah hanya disyari’atkan pada pelaksanaan rakaat yang pertama.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: