HADITS GHADIR KHUM

Maret 1, 2012 pukul 3:25 pm | Ditulis dalam SMS | 2 Komentar

HADITS GHADIR KHUM

Dr. H. Zainuddin MZ. Lc. MA.

A. Pendahuluan

Hadits Ghadir Khum, adalah hadits yang disampaikan oleh Rasulullah di sebuah wilayah yang dikenal dengan nama Ghadir Khum. Inti hadits tersebut dianggap sebagai legalitas kepemimpinan Ali ra., dimana dalam pandangan sebagian orang, Ali adalah orang yang paling layak menggantikan kepemimpinan Rasulullah saw. pasca wafatnya Rasulullah saw.

B. Teks Hadits

عن أبي الطفيل عن زيد قال : لما دفع النبي صلى الله عليه و سلم من حجة الوداع ونزل غدير خم قال: إن الله مولاي وأنا ولي كل مؤمن. ثم إنه أخذ بيد علي رضي الله عنه فقال: من كنت وليه فهذا وليه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه.

 

Dinarasikan Abu Thufail, Zaid ra. berkata: Ketika Nabi saw. pulang dari pelaksanaan haji Wada’, dan beliau singgah di tempat Ghadir Khum, beliau bersabda: Sesungguhnya Allah adalah maula saya dan saya menjadi maula bagi setiap mukmin. Kemudian Nabi memegang tangan Ali ra. seraya bersabda: Barangsiapa yang saya menjadi pemimpinnya, maka dia (Ali) pun menjadi pemimpinnya. Ya Allah dukunglah orang yang mendukung dia dan musuhilah orang yang memusuhi dia.

 

C. Takhrij Hadits:

Hadits di atas diriwayatkan sejumlah sahabat. Pertama, Ibn Abbas yang dikeluarkan oleh Hakim: 4652. Kedua, Buraidah yang dikeluarkan oleh Ibn Abu Syaibah: 32132, Ahmad: 22995 dan Hakim: 4578. Ketiga, Barra’ ibn Azib yang dikeluarkan oleh Ahmad: 18502. Keempat, Jarir yang dikeluarkan Thabrani 2505. Kelima, Habsyi ibn Junadah yang dikeluarkan oleh Ibn Qani’:1/199. Keenam, Zaid yang dikeluarkan oleh Turmudzi: 3713, Nasai dalam al-Kubra: 8464. Thabrani: 3049. Ketujuh Jabir yang dikeluarkan Ibn Abu Syaibah: 32072. Kedelapan, Abu Ayub al-Anshari yang dikeluarkan Ibn Abu Syaibah: 32073, Thabrani: 4052. Kesembilan, Malik ibn Huwairits yang dikeluarkan Thabrani: 646. Kesepuluh, Sa’ad ibn Abu Waqqas yang dikeluarkan oleh Ibn Majah: 121. Kesebelas, Anas ibn Malik, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Hurairah yang dikeluarkan Thabrani dalam al-Shaghir: 116 dan al-Ausath: 2442. Keduabelas Ali dan kesaksan tiga puluh orang yang dikeluarkan Ahmad: 641. Dengan demikian empat puluh satu perawi yang terlibat periwayatan hadits tersebut.

Dengan demikian hadits di atas merupakan hadits shahih. Keshahihan hadits tersebut telah dijelaskan oleh imam Turmudzi dan para verikator referensi-referensi hadits tersebut, seperti Ahmad Muhammad Syakir, Ibn Katsir, Abu Ishak al-Huwaini, al-Suyuti dan lainnya.

 

D. Pemahaman Hadits

Problemnya ada pada pemahaman hadits tersebut. Ada yang menjadikannya sebagai justifikasi kebenaran Ali sebagai khalifah, hal ini ditemukan qarinah: Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau pengertian “al-maula” sekedar dimaknai persahabatan atau sekedar yang paling dicintai.

Qarinah tersebut secara lugas telah dipaparkan dalam Musnad Ahmad dari Abu Thufail: Ali mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berkata: Saya meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah saw. bersabda di Ghadir Khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tiga puluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata: Kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah saw. memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia: Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mukmin lebih dari diri mereka sendiri. Para sahabat menjawab “benar wahai Rasulullah”. Nabi bersabda “barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka Ali pun adalah pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Abu Thufail berkata: Ketika itu muncul sesuatu yang mengganjal dalam hatiku, maka saya menemui Zaid ibn Arqam dan berkata kepadanya: Sesungguhnya saya mendengar Ali berkata begini begitu. Zaid berkata: Apa yang patut diingkari, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda seperti itu.

Apabila hadits di atas sekedar difahami kebenaran Ali menjadi salah seorang khalifah, maka umat salaf dan khalaf telah setuju dan beliau pada akhirnya menjadi khalifah yang keempat dari khulafau rasyidin yang diterima umat. Namun apabila difahami kebenaran Ali sebagai pengganri Rasulullah dan ketidak benaran ketiga khalifah sebelumnya (Abu Bakar, Umar dan Utsman), maka melahirkan berbagai pertanyaan yang sulit dijawab: Pertama, sekiranya pemahaman Ali yang layak sebagai pengganti Nabi, kenapa sewaktu suksesi kepemimpinan tidak diungkap. Sekiranya dikatakan bahwa masyarakat sudah terlanjur membaiat Abu Bakar sebagai khalifah, maka kenapa tidak terungkap lagi pasca wafatnya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Kedua, apabila tidak terungkapnya wasiat Nabi kepada Ali dengan alasan apapun termasuk tawaddhu’, sungguh itu berupakan penghianatan Ali dan umat terhadap wasiat Nabi saw. Ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, semua umat berbaiat kepadanya, termasuk Ali ibn Abu Thalib, walaupun ada khabar agak terlambat.

Dari itu semua, maka tidak mungkin hadits tersebut digunakan sebagai jastifikasi kebenaran Ali sebagai pengganti Nabi saw. Adapun tambahan redaksi: Dialah (Ali) yang menjadi khalifah sesudahku, maka al-idraj (sisipan pada matan hadits) tersebut jelas keliru. Sekiranya benar, maka dalam fakta sejarah menunjukkan ketidakbenaran pernyataan Nabi, padahal semua umat memahami bahwa tidaklah Nabi bersabda karena hawa nafsunya, melainkan dengan wahyu yang dianugerahkan kepadanya, sehingga kebenar ucapan Nabi saw. adalah mutlak, berlaku sejak disabdakan sampai datangnya hari kiamat. Wallahu a’lam.

 

 وأما ما يذكره الشيعة في هذا الحديث وغيره أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : في علي رضي اله عنه : إنه خليفتي من بعدي . فلا يصح بوجه من الوجوه . بل هو من أباطيلهم الكثيرة . تابع الموضوع في الكتاب

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. kalo maula diartikan menggantikan posisi rasul sebagai pemimpin tentulah pada saat haji wada di arafah tempat dinyatakannya ali adalah sebagai maula..kalao itu dinyatakan di ghadir pada saat muslim yg p
    ulang ke madinah saja beliau mengatakan mawla berarti itu adalah utk mewakili rasul dalam peperangan dan lain2..

  2. wkakakakaaka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: