SPESIAL IDUL ADHA (REPOST)

September 27, 2016 pukul 1:59 pm | Ditulis dalam Serba-Serbi | 1 Komentar
Tag: ,

TUJUH DAN LIMA TAKBIR DALAM SHALAT HARI RAYA

Dr. KH. Zainuddin MZ, Lc. MA.

Pendahuluan

Pro dan kontra mengenai bilangan takbir tujuh kali untuk raka’at pertama dan lima kali untuk raka’at kedua dalam shalat Idul Fitri dan Idul Adha layak diangkat menjadi bahan diskusi. Hal ini berawal karena tidak ditemukan secara sepakat hadits shahih yang menjelaskan perkara tersebut. Beberapa hadits yang ditemukan dalam sanadnya (mata rantai perawinya) bermasalah. Menurut sebagian ulama sudah memenuhi kriteria keshahihan, namun menurut sebagian lain belum dapat dikategorikan shahih. Di sisi lain mungkinkah hadits dhaif derajatnya dapat meningkat karena adanya kesaksian periwayatan yang lain, sehingga hadits tersebut dapat diamalkan?. Semoga artikel ini dapat menjawab rumusan masalah tersebut.

Hadits Nabi Saw.

Ditemukan hadits Nabi saw. yang memaparkan tujuh kali takbir untuk raka’at pertama dan lima kali takbir untuk raka’at kedua dalam shalat Idul Fitri dan Idul Adha dari riwayat (1) Aisyah, (2) Abu Hurairah, (3) Sa’ad ibn Aid al-Anshari, (4) Abdullah ibn Amr ibn Asyh, dan (5) Amr ibn Auf al-Muzani.

Pertama, hadits Aisyah

Hadits yang dinarasikan Aisyah terdapat pada kodifikasi Abu Daud: 970, Ibn Majah: 1270, Ahmad: 23226, 23273.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى فِي الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا

Dinarasikan Aisyah bahwa Rasulullah saw dalam shalat Idul Fitri dan Idul Adha pada raka’at pertama membaca takbir tujuh kali dan pada raka’at kedua membaca takbir lima kali.

Dalam semua sanad (mata rantai perawi) hadits di atas terdapat perawi yang bernama Ibn Lahi’ah, nama lengkapnya Abdullah ibn Lahi’ah ibn Uqbah. Walaupun dia adalah perawi Muslim, namun dia adalah perawi dhaif (lemah) dari sisi hafalannya, apalagi setelah kemusnahan kitabnya.

Kedua, hadits Abu Hurairah

Hadits yang dinarasikan Abu Hurairah dikeluarkan oleh Ahmad: 5325.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّكْبِيرُ فِي الْعِيدَيْنِ سَبْعًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ وَخَمْسًا بَعْدَ الْقِرَاءَةِ

Dinarasikan Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda: Takbir dalam shalat Idul Fitri dan Idul Adha, pada raka’at pertama tujuh kali sebelum membaca Al-Qur’an dan pada raka’at kedua lima kali sebelum membaca Al-Qur’an.

Dalam sanad (mata rantai perawi) hadits ini ada yang bernama Ibn Lahi’ah yang dinilai dhaif (lemah) sebagaimana hadits sebelumnya.

Ketiga, hadits Sa’ad ibn Aid al-Anshari

Hadits yang dinarasikan Sa’ad ibn Aid al-Anshari terdapat pada kodifikasi Ibn Majah: 1267 dan Darimi: 1556.

عَنْ سَعْدٍ بن عائد الأنصاري مُؤَذِّنِ رَسُولِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْعِيدَيْنِ فِي الْأُولَى سَبْعًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ وَفِي الْآخِرَةِ خَمْسًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ

Dinarasikan Sa’ad ibn Aid al-Anshari (muadzin Nabi) bahwa Rasulullah saw. membaca takbir dalam shalat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha pada raka’at pertama tujuh kali takbir sebelum membaca Al-Qur’an dan pada raka’at kedua lima kali takbir sebelum membaca Al-Qur’an.

Sanad (mata rantai perawi) hadits ini sangat lemah, semuanya bersumber dari Abdurrahman yang ada pada level kedelapan dan gurunya Sa’ad ibn Ammar pada level ke tujuh.

Keempat, hadits Abdullah ibn Amr ibn Asyh.

Hadits yang dinarasikan Abdullah ibn Amr ibn Asyh dikeluarkan Abu Daud: 971, 972 dan Ibn Majah: 1268.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّكْبِيرُ فِي الْفِطْرِ سَبْعٌ فِي الْأُولَى وَخَمْسٌ فِي الْآخِرَةِ وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا

Dinarasikan Abdullah ibn Amr ibn Asyh, Rasulullah saw. bersabda: Takbir dalam shalat Idul Fitri tujuh kali pada raka’at pertama dan lima kali pada raka’at kedua sebelum membaca Al-Qur’an.

Sanad (mata rantai perawi) hadits ini lemah. Semua bersumber dari Abdullah ibn Abdurrahman al-Thaifi yang ada pada level ke lima, gurunya Amr ibn Syu’aib pada level ke empat dan gurunya lagi Syu’aib ibn Muhammad juga pada level ke empat.

Kelima, hadits Amr ibn Auf al-Muzani

Hadits yang dinarasikan Amr ibn Auf dikeluarkan oleh Turmudzi: 970 dan Ibn Majah: 1269.

عَنْ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ بن زيد المزنى أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيدَيْنِ فِي الْأُولَى سَبْعًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ وَفِي الْآخِرَةِ خَمْسًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ

Dinarasikan Amr ibn Auf ibn Zaid al-Muzani bahwa Rasulullah saw. dalam shalat Idul Fitri dan Idul Adha pada raka’at pertama tujuh kali takbir sebelum membaca Al-Qur’an dan pada raka’at kedua lima kali takbir sebelum membaca Al-Qur’an.

Hadits ini dinilai Turmudzi paling bagus. Penilaian ini perlu dikritisi, karena di dalam sanad (mata rantai perawi) hadits ini ada yang bernama Katsir ibn Abdullah yang dinilai sangat lemah, bahkan dinilai al-Syafi’i dia adalah salah seorang rukun pendusta.

Analisis

Hadits-hadits yang memaparkan takbir dalam shalat Idul Fitri dan Idul Adha sebanyak tujuh kali untuk raka’at pertama dan lima kali untuk raka’at kedua yang dinarasikan oleh lima shahabat Nabi (Aisyah, Abu Hurairah, Sa’ad ibn Aid al-Anshari, Abdullah ibn Amr ibn Asyh dan Amr ibn Auf al-Muzani) pada setiap sanadnya (mata rantai perawinya) ada yang dhaif (lemah).

Dengan demikian, apabila dicermati dengan teori pertama (bahwa hadits dhaif yang digabung dengan hadits dhaif lain, derajatnya (statusnya) tidak dapat meningkat yang lebih baik, maka kesimpulan akhir hadits-hadits tersebut adalah dhaif (lemah). Itulah sebabnya mereka tidak mengamalkan takbir tujuh kali dan lima kali takbir tersebut.

Berbeda apabila dicermati dengan teori kedua (bahwa hadits dhaif yang digabung dengan hadits dhaif lain, derajatnya (statusnya) dapat meningkat yang lebih baik, sehingga menjadi hadits hasan lighairihi (hasan karena dukungan yang lain), maka kesimpulan akhir hadits-hadits tersebut adalah hasan lighairihi. Itulah sebabnya mereka tetap mengamalkan takbir tujuh kali dan lima kali tersebut.

Dalam tradisi keilmuan ulama hadits, penilaian dhaif (lemah) perawi harus diteliti lebih lanjut, apa yang menyebabkan kemelahannya, apakah kelemahan perawi tersebut mempengaruhi keabsahan periwayatannya?, mengingat ada kritikus yang menilai negatif seseorang secara tidak proporsional. Mereka yang dikategorikan kelompok ekstrim atau mutasyaddid.

Pada hadits yang dinarasikan Aisyah, biang permasalahannya adalah perawi yang bernama Ibn Lahi’ah (Abdulah ibn Lahi’ah). Kelemahan orang ini ada pada aspek hafalannya, hal ini disebabkan hilangnya manuskrip (kitab hadits) yang dimilikinya. Artinya selama dia masih mengandalkan kitabnya, maka periwayatannya tidak menjadi masalah (haditsnya shahih).

Dari sekian murid Ibnu Lahi’ah ada yang bernama Abdullah ibn Mubarak, Abdullah ibn Yazid al-Muqri dan Abdullah ibn Wahab (yang ketiganya sering disebut al-abadilah). Ketiga murid ini adalah pakar hadits, dan berguru kepada Ibn Lahi’ah sejak awal (sebelum kehilangan manuskripnya), bahkan dalam kapasitas keilmuan mereka, apabila gurunya (Ibn Lahi’ah) keliru dalam meriwayatkan hadits, maka mereka dapat mengontrol kesalahannya. Dengan demikian periwayatan mereka terhadap gurunya (Ibn Lahi’ah) dinilai shahih.

Walaupun Ibn Lahi’ah perawi lemah hafalan, namun kalau muridnya al-Abadilah (Abdullah ibn Wahab, Abdullah ibn Mubarak dan Abdullah ibn Yazid al-Muqri) ulama tidak mempermasalahkan kelemahannya, karena kekeliruan gurunya terkontrol oleh mereka. Demikian yang dipaparkan Abdul Ghina ibn Sa’id al-Azdi. Muhammad ibn Yahya menegaskan: Inilah yang benar, karena mereka (al-Abadilah) adalah murid pertama yang mendengar dari Ibn Lahi’ah (sebelum hilang kitabnya). Dengan penjelasan seperti ini maka kelemahan Ibn Lahi’ah tidak mempengaruhi keshahian riwayatnya. Seperti inilah yang diistilahkan oleh ulama nilai al-jarh (penilaian negatifnya) tidak tergolong qadih (merusak periwayatannya), wallahu a’lam.

Pada sanad (mata rantai perawi) hadits yang dikeluarkan Ibn Majah: 1270 meriwayatkan hadits Aisyah dengan jalur Harmalah ibn Yahya, dari Abdullah ibn Wahab dari Ibn Lahi’ah dari Khalid ibn Yazid dan Uqail dari Ibn Syihab dari Urwah dari Aisyah. Pada sanad ini terbukti di antara murid Ibn Lahi’ah adalah Abdullah ibn Wahab. Dengan demikian hadits dengan jalur mata rantai perawi ini adalah shahih. Alhamdulillah.

Kesimpulan

Hadits tentang tujuh kali takbir dan lima kali takbir dalam shalat Idul Fitri dan Idul Adha yang dinarasikan Aisyah lewat jalur Abdullah ibn Wahab adalah shahih. Apalagi kalau kajian hadits dibidik dengan teori kedua (hadits dhaif apabila didukung dengan hadits dhaif yang lain derajatnya dapat meningkat menjadi hadits hasan lighairihi). Maka dengan ditemukan berbagai syawahid (kesaksian periwayatan sesama shahabat), membuat derajat hadits ini makin mantap.

*****

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. masyaAllah penjagaan hadits begtu ketat, tapi saya ngin tahu ustadz, konsekuensi seseorang mengamalkan hadits dzoif dalam beribadah dihadapan Allah itu seperti apa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: